dialog cerita rakyat timun mas
Ceritarakyat bahasa inggris malin kundang dari sumatera barat. Dialog cerita timun mas #2. Cerita Timun Mas, Raksasa Jahat Menagih Janji. Timun mas mengalahkan raksasa yang ingin memakannya. Singkat cerita, timun mas pun merasa lega dan pada saat kembali ke rumah kedua orang tuanya sangat senang karena anaknya selamat.
NaskahDialog Cerita Rakyat Timun Spectrasonics Omnisphere 1 5 6d VSTi RTAS Windows Mac OS UPDATE ONLY 2011 AiR . Posted Sep 18, 14 · OP
RaksasaMengejar Timun Mas Sumber: Alchetron Dua hari kemudian, tepat pada ulang tahun Timun Mas, raksasa datang ke rumah Mbok Srini. "Di mana anakmu? Aku sudah lapar." teriak raksasa seraya menghentak-hentakkan kakinya. Tanpa rasa takut, Mbok Srini mengadapi Raksasa, "Aku takkan menyerahkan anakku. Dia milikku.
DialogTimun Mas Dalam Bahasa Inggris. Narrative text (teks naratif) merupakan salah satu jenis teks bahasa inggris yang digunakan untuk mengungkapkan sebuah cerita fiktif dengan tujuan agar si pembaca terhibur olehnya. Seperti yang disampaikan di atas, mulailah dengan mengetahui teksnya. Dialog Danau Toba Bahasa Inggris from www.coretanindah.my.id
Dayby day, Timun Mas grew into a beautiful lady. The widow remembered what the giant had warned her. So when Timun Mas turned sixteen, the widow told her to run into the jungle with a bag of salt. "You must not let the giant catch you," the widow cried out as Timun Mas ran into the jungle. The giant came and asked the widow for Timun Mas.
Exemple De Profil Site De Rencontre. Ingin membacakan cerita rakyat Timun Mas pada buah hati tercinta? Sekarang kamu telah berada di tempat tepat. Selain ceritanya, di sini juga telah kami paparkan unsur intrinsik dan serba-serbi dongeng Timun Mas. Di segala penjuru daerah di Indonesia terdapat beragam dongeng, legenda, atau mitos, yang menarik untuk dibaca. Di Jawa Tengah sendiri, cerita rakyat Timun Mas adalah yang cukup tentu sudah pernah mendengar dongeng ini saat masih kecil, kan? Mungkin saja kamu mendengar ceritanya dari gurumu, ibu, atau membacanya sendiri dari buku dongeng. Apakah saat ini kamu ingin membacakan cerita rakyat Timun Mas ke anak atau keponakanmu yang masih kecil?Bila iya, kamu bisa membacakan kisahnya yang telah kami paparkan di artikel ini. Tak hanya cerita, di sini juga terdapat unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya. Yuk, baca langsung saja!Cerita Rakyat Timun Mas Sumber Alchetron Pada zaman dahulu kala, di Jawa Tengah hiduplah sepasang suami istri yang tak kunjung mendapat momongan. Sepanjang malam, mereka terus berdoa kepada Tuhan agar diberi anak. Namun, doa mereka tak pernah terwujud. Hingga suatu hari, sang suami pun meninggal. Sang istri yang dikenal dengan nama Mbok Srini pun semakin kesepian. Ia terus-terusan menangis meratapi nasibnya. Meski sudah tak memiliki suami, keinginan memiliki anak tak pernah hilang. Ia berharap adanya keajaiban untuk bisa memiliki momongan. Baca juga Kisah Kupu-Kupu Berhati Mulia & Ulasan Menariknya, Pengingat untuk Selalu Berbuat Baik pada Siapa Saja Bermimpi Didatangi Raksasa Pada suatu malam, Mbok Srini bermimpi bertemu dengan sesosok raksasa. Dalam mimpinya, raksasa tersebut meminta Mbok Srini untuk mengambil suatu bungkusan dekat pohon besar yang berada dekat hutan tempat Mbok Srini biasa mencari kayu bakar. Raksasa itu mengatakan “Ambil bungkusannya”. Setelah itu, Mbok Srini terbangun dari mimpinya. Karena terasa nyata, ia pun penasaran apakah benar ada bingkisan di pohon besar. Untuk membuktikannya, ia pun bergegas pergi ke hutan dan mencari pohon besar yang ditunjukkan oleh raksasa itu. Benar saja, ia menemukan sebuah bingkisan kecil. Saat dibuka, ia menemukan biji mentimun. “Apa maksud Raksasa memberiku sebutir biji mentimun?” ucapnya dalam hati. Mbok Srini pun semakin kebingungan. Ia tak tahu maksud dari raksasa memberikan sebutir biji mentimun. Dalam lamunannya memikirkan maksud dari biji mentimun tersebut, datanglah raksasa yang ada dalam mimpi Mbok Srini. Raksasa itu tertawa dengan kencangnya, “Ha… ha… ha!”. Mbok Srini pun terkejut dan merasa ketakutan. Walaupun pernah bertemu dalam mimpi, ia tak menyangka kan melihat raksasa yang berwarna hijau ini secara langsung. Melakukan Perjanjian dengan Raksasa Karena ketakutan, Mbok Srini pun terus-terusan mengucap ampun, “Ampuni aku tuan Raksasa, tolong jangan sakiti aku”. “Jangan takut padaku! Aku tak akan memakanmu. Aku dengar, kau menginginkan seorang anak?” tanya raksasa itu dengan suara lantang. Dengan suara yang terbata-bata, Mbok Srini menjawab pertanyaan raksasa, “I.. iya, benar, tu… tuan… Raksasa. A… aku ingin anak, ta… tapi suamiku sudah meninggal”. “Ha… ha… ha…” raksasa itu menertawakan Mbok Srini. “Kalau kau sangat ingin punya anak, segeralah tanam biji timun yang kau pegang itu. Lalu, nanti kau kan dapatkan apa yang kau inginkan!”, jawab raksasa. “Benarkah bisa begitu tuan Raksasa? Aku akan sangat berterima kasih bila engkau bisa mengabulkan harapanku.” ucap Mbok Srini dengan wajah penuh harap. “Tentu saja benar! Tapi, kau kira semua ini tak ada syaratnya? Ha… ha… ha…” jawab raksasa dengan suara kencangnya. “Apa syarat yang harus aku lakukan, Tuan? Aku kan berusaha untuk melakukannya. Asalkan aku benar-benar bisa mendapatkan anak.” ucap Mbok Srini. “Jika nanti anakmu sudah berumur 17 tahun, ia akan aku ambil. Lalu, aku akan memakannya dengan lahap. Kamu sanggup? Ha… ha… ha…” ucap raksasa kejam. Saking besar keinginannya memiliki anak, Mbok Srini pun langsung menjawab “Baiklah, Tuan! Aku bersedia memenuhi syarat yang kau berikan.” Muncullah Anak Perempuan Berparas Cantik Mbok Srini langsung bergegas pulang ke rumah. Dengan wajah sumringah, ia menanam biji timun di tanah yang paling subur dekat rumahnya. Ia merawat dan menjaganya dengan baik. Tiap pagi dan sore, ia menyirami biji timunnya dengan baik. Tak disangka-sangka, biji itu tumbuh menjadi pohon dengan cepatnya. Lalu, muncullah timun berwarna kuning keemasan. Warnanya sangatlah cantik. Mbok Srini sudah tak sabar menunggu kedatangan anak. Dua bulan kemudian, timun itu tumbuh sangat besar melebihi buah mentimun pada umumnya. Dirasa sudah matang, Mbok Srini memetik timunnya dengan hati-hati, Ia lalu membelah mentimunnya dengan sangat berhati-hati. Saat berhasil membukanya, ia sangat terkejut karena dalamnya terdapat bayi perempuan yang sangat cantik jelita. Mbok Srini pun menangis kegirangan. Ia sangat bersyukur karena akhirnya memiliki momongan yang selama ini didambakannya. Bayi itu dipeluknya dengan hangat. Karena lahir dari timun berwarna kuning keemasan, bayi perempuan itu diberi nama Timun Mas. Mbok Srini terus-terusan mencium dan memeluk anaknya. Ia merawat dan mendidik gadis itu dengan baik. Wajahnya sangatlah cantik. Ditambah lagi, ia juga sangat cerdas dan memiliki sifat yang baik. Semakin hari, Mbok Srini semakin menyayanginya. Sampai-sampai, ia lupa dengan janji yang telah dibuatnya dengan raksasa. Raksasa Datang Lagi ke Mimpi Mbok Srini Sumber BBC Di usia anaknya yang hampir 17 tahun, Mbok Srini bermimpi bertemu raksasa. Dalam mimpinya, raksasa berkata akan menjemput gadis itu seminggu lagi, atau tepat ulang tahun perempuan cantik itu. Saat terbangun dari tidurnya, Mbok Srini sangat bersedih. Ia pun teringat dengan janjinya dahulu. Air mata pun tak terbendungkan. Melihat ibunya menangis, anak perempuan itu pun bertanya, “Bu, kenapa menangis? Apa yang terjadi? Ceritakan padaku, Bu.” Dengan hati yang sangat terluka, Mbok Srini pun memeluk anaknya dengan sangat erat. “Nak, ibu sangat menyayangimu. Ibu tak ingin kehilanganmu.” ucap Mbok Srini dengan isak tangis. “Aku tak akan meninggalkanmu, Bu. Selamanya aku kan bersamamu” jawab gadis itu seraya menepuk pundak ibunya. Mbok Srini Menceritakan Rahasianya Selama Ini “Anakku, maafkan ibumu ini, ya, Nak. Selama ini ada rahasia yang coba ibu tutup-tutupi.” ucap Mbok Srini. “Rahasia apa, Bu? Apa yang selama ini Ibu sembunyikan dariku? ” jawab gadis itu dengan penasaran. “Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandungku.” ucap Mbok Srini dengan kepala menunduk. Ia tak sanggup menatap mata anaknya. “Apa maksud Ibu?” tanyanya dengan wajah penuh rasa penasaran. Mbok Srini pun menceritakan semua yang dialaminya dari awal hingga akhir. Ia mengakhiri ceritanya dengan mimpi yang dialaminya semalam. Dengan isak tangis, Mbok Srini berkata tak ingin menyerahkan anaknya pada raksasa. Gadis itu pun tersentak kaget dengan cerita ibunya. “Aku tidak ingin meninggalkanmu, Bu. Aku tak ingin menjadi santapan raksasa. Bagaimana caranya agar aku bisa selamat?”. Mendengar ungkapan anaknya, Mbok Srini pun termenung dan memikirkan hal apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan anaknya. Menemui Seorang Pertapa Setelah berhari-hari memikirkan cara menyelamatkan anaknnya, akhirnya Mbok Srini memutuskan untuk pergi ke gunung untuk menemui seorang pertapa. Ia hendak bertanya, hal apa saja yang bisa dilakukannya agar bisa menyelamatkan Timun Mas. “Anakku tersayang, besok Ibu akan pergi ke gunung menemui seorang pertapa. Ia adalah teman almarhum ayahmu. Ibu berharap, ia bisa membantu kita.” ungkap Mbok Srini. “Baiklah, Bu. Semoga kita mendapatkan jalan keluarnya. Aku ingin selamat dan tinggai bersama Ibu.” imbuh Timun Mas. Keesokan harinya, Mbok Srini menuju ke gunung. Sesampainya di sana, ia langsung menemui pertapa itu dan menyamapaikan maksud kedatangannya. Mbok Srini pun menceritakan semua kejadian yang dialami. Seorang pertapa itu pun mengangguk-angguk tanda mengerti maksud dari cerita Mbok Srini. Pada akhir cerita, Mbok Srini bertanya, “Apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan anakku? Aku memohon dengan sangat Tuan bisa membantuku.” “Baiklah, karena kamu adalah istri dari kawanku, maka aku akan membantumu.” ia pun masuk ke dalam ruang rahasianya. Saat kembali menemui Mbok Srini, dibawanya empat bungkusan kecil. “Ini kubawakan empat bungkus yang berisi biji timun, garam, dan terasi. Mintalah Timun Mas berlari sekencang-kencangnya. Bila Raksasa hendak menangkapnya, mintalah ia untuk menyebarkan satu persatu isi dari bungkusan ini!” jelas pertapa tersebut. Setelah memahaminya, Mbok Srini pun kembali ke rumah. Ia menceritakan pada Timun Mas, apa saja yang perlu dilakukannya untuk selamat dari raksasa. Raksasa Mengejar Timun Mas Sumber Alchetron Dua hari kemudian, tepat pada ulang tahun Timun Mas, raksasa datang ke rumah Mbok Srini. “Di mana anakmu? Aku sudah lapar.” teriak raksasa seraya menghentak-hentakkan kakinya. Tanpa rasa takut, Mbok Srini mengadapi Raksasa, “Aku takkan menyerahkan anakku. Dia milikku. Kamu tak seharusnya merebutnya dariku!” Ia pun meminta anaknya berlari menuju hutan. Raksasa geram, ia marah dan mengejar Timun Mas. Sepanjang perjalanan, ia meneriakkinya, “Kau adalah santapanku, aku sudah tak sabar ingin memakanmu”. Dengang lantang gadis itu mengatakan sambil berlari, “Aku bukan santapanmu. Aku takkan menyerahkan diriku.” Ketika raksasa semakin dekat, Timun Mas pun melempar bungkusan pertama yang berisi biji mentimun. Dalam sekejap, biji-biji itu berubah menjadi batang timun yang menjalar dan melilit tubuh raksasa. Namun, raksasa itu berhasil lolos dan mengejar gadis itu. Timun Mas berlari dengan sangat kencang. Saat raksasa mendekat, ia lalu melemparkan bungkusan kedua yang berisi jarum. Jarum-jarum itu lalu berubah menjadi bambu-bambu runcing yang menghalangi raksasa. Karena sangat kuat, raksasa itu mampu melewatinya. Ia terus mengejar anak Mbok Srini meski kaki dan tubuhnya berdarah-darah. Gadis itu lalu mengeluarkan bungkusan ketiga. Isinya adalah garam. Seketika, garam itu berubah menjadi lautan luas dan dalam. Tapi tetap saja raksasa bisa melewatinya. Mengetahui betapa kuatnya raksasa, Timun Mas pun mulai cemas. Ia hanya memiliki satu bungkusan saja. Demi bisa berkumpul lagi dengan sang ibu, ia pun kembali berlari dengan kencang. Ia yakin dirinya bisa melawan raksasa. Dengan penuh keyakinan dan tenaga yang tersisa, Timun Mas melempar bungkusan terakhir ketika raksasa hampir meraih tubuhnya. Tak disangka-sangka, bungkusan terebut berisi terasi yang menjelma menjadi lautan lumpur mendidih. Pada akhirnya, raksasa terjebur ke dalam lumpur dan ia pun tewas seketika. Dengan langkah tergopoh, Timun Mas kembali ke rumah. “Ibu, aku kembali. Aku berhasil mengalahkan Raksasa” ucap gadis itu dengan semangat. Mbok Srini yang sedari tadi menangis karena mencemaskan anaknya pun datang menyambut dan memeluk anaknya. Akhirnya, mereka pun hidup bahagia. Baca juga Kisah Sawerigading dari Sulawesi Selatan & Ulasan Menariknya, Penyemangat Agar Pantang Menyerah Unsur Intrinsik Cerita Rakyat Timun Mas Setelah membaca legenda tentang Timun Mas tadi, sekarang saatnya menggali beberapa unsur intrinsiknya. Berikut adalah penjabarannya; 1. Tema Tema atau inti dari cerita rakyat Timun Mas adalah tentang perjuangan dan kegigihan menyelamatkan diri dari raksasa. 2. Tokoh dan Perwatakkan Sumber Timun Mas yang Pemberani – Little Serambi Dalam legenda Timun Mas, terdapat tiga tokoh utama yang mewarnai cerita rakyat ini. Mereka adalah Mbok Srini, Timun Mas, dan raksasa. Tokoh antagonis dalam cerita ini adalah raksasa yang digambarkan memiliki tubuh besar berwarna hijau. Mbok Srini memiliki sifat yang penyayang. Terbukti, ia merawat dan menyayangi Timun Mas dengan sangat baik. Dalam cerita ini, Timun Mas adalah anak yang tak mudah menyerah. Pada awal cerita, ada 1 tokoh yang tak begitu banyak diceritakan, yaitu suami Mbok Srini. 3. Latar Dari cerita rakyat ini, dapat ditarik kesimpulan kalau dongeng Timun Mas mengambil setting di beberapa tempat. Pertama suatu rumah kecil dalam sebuah pedesaan yang berada di tengah hutan kawasan Jawa Tengah. Kedua, setting yang diambil adalah hutan tempat biasa si ibu mencari kayu bakar. Lalu, gunung tempat si pertapa tinggal. Yang terakhir adalah tempat-tempat raksasa mengejar Timun Mas, yakni hutan. 4. Alur Cerita Legenda Timun Mas ini menggunakan alur maju. Dongeng diawali dari Timun Mas belum lahir, hingga beranjak dewasa. 5. Pesan Moral dari Cerita Rakyat Timun Mas Setelah membaca dongeng Timun Mas ini, pesan moral apa saja yang bisa kamu ambil? Tentu ada beberapa pesan moral yang dapat dipetik dari legenda Timun Mas. Yang pertama adalah janganlah membuat perjanjian dan percaya pada sembarang orang. Yakin dan percayalah hanya kepada Tuhan yang Maha Esa. Berikutnya, jangan mudah menyerah. Lihatlah betapa keras perjuangan Timun Mas dalam menyelamatkan dirinya dari serangan raksasa. Ketiga, janganlah jadi orang jahat. Orang yang menyakiti dan berbuat jahat pada orang lain akan terkena batunya. Buktinya, pada akhir cerita, raksasa yang jahat mati terlalap lumpur yang mendidih. Terakhir, jika ingin membantu orang lain, maka janganlah kamu meminta imbalan. Bantulah seseorang semampumu dengan hati yang ikhlas. Selain intrinsik, sebenarnya ada juga unsur ekstrinsik dari legenda Timun Mas. Yakni unsur di luar cerpen yang berkaitan dengan latar belakang masyarakat, penulis, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Baca juga Dongeng Pendek Kerbau dan Kambing Beserta Ulasannya, Fabel yang Sarat Pelajaran Hidup Serba-Serbi tentang Timun Mas Tak hanya memiliki kisah yang penuh makna, Timun Mas juga memiliki beberapa informasi menarik. Apa sajakah itu? Berikut ulasannya; 1. Buah Timun Mas Ada di Kehidupan Nyata Sumber Kompas Buah menyerupai gambaran timun berwarna kuning keemasan dalam dongeng ini sebenarnya ada di kehidupan kita. Namanya adalah timun suri. Timun suri atau mentimun suri memiliki warna kuning cerah bila sudah matang. Ukurannya memanjang dan besar menyerupai buah pepaya. 2. Kisahnya Diangkat Menjadi Papan Permainan Dilansir dari BBC, dongeng atau legenda Timun Mas ini menarik perhatian Blue Orange, yakni perusahaan publisher board game yang didirikan oleh orang berkebangsaan Perancis. Board Game Timun Mas diterbitkan pada Oktober 2019 dalam bahasa Inggris dan dijual di berbagai negara di Eropa dan Amerika. Menarik sekali, bukan? Baca juga Kisah tentang Si Itik yang Buruk Rupa dan Ulasan Menariknya, Pelajaran untuk Mencintai Diri Sendiri Sudah Puas Membaca Cerita Rakyat Timun Mas Ini? Demikianlah akhir dari legenda Timun Mas dilengkapi dengan unsur intrinsik dan serba-serbi kisahnya. Setelah membaca keselurahan cerita rakyat Timun Mas ini, kamu sudah merasa puas, kan? Bila masih ingin membaca dongeng atau legenda lainnya, tak perlu ke mana-mana lagi. Kami masih punya cerita, dongeng, dan legenda lainnya yang tak kalah apik. Seperti Batu Menangis, Malin Kundang, Roro Jonggrang, dan lain-lain. Yuk, simak langsung! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
Timun mas Narrator Once upon a time, in a place deep inside the forest, there were a green giant named Buto Ijo and a sacred hermit. They were best friends since toddlers. One day, the hermit came to the grotto to see his best friend. Hermit Is anyone inside? [Walks inside the grotto] Buto Ijo I’m here. Hermit There you are my best friend, what are you doing? Buto Ijo Eating. Isn’t it obvious? Hermit Oh… I see. What are you eating? Buto Ijo [No response, just continue eating] Hermit You’re so annoying! Can I have some? Buto Ijo [Turns his body away, not willing to share his foods with the hermit] Hermit [Angry] As usual, you never share me your foods though I always shared mine to you! You stingy giant! I loathe you! Buto Ijo As if I care! [Continue eating] Hermit Someday your greed will get its return! Don’t regret it! I’m leaving! [Gets out of the grotto with anger] Act 2 Narrator One day, there was pleasant couple. They lived in a village near the forest. They lived happily. Unfortunately, they didn’t have any children yet. Everyday they prayed to God for a child. Mother Oh God… please give us a child. I promise I will always protect my child. Please answer our prayer. Thank you God. Narrator The green giant, Buto Ijo, coincidentally passed by the couple’s house. He heard what they were praying for. Buto Ijo Whoa…ha…ha…ha! I heard that! Mother [gasps] Oh my God! W-Who are you? Buto Ijo I’m Buto Ijo. Father [comes toward his wife] What’s with the noise? Who is that, honey? Mother Oh my husband, Buto Ijo is in front of our house. I’m scared. He will kill both of us! Buto Ijo Whoa…ha…ha…ha… I’m not going to kill you. But I will fulfill your request to have a child. Father You are just joking, aren’t you? Buto Ijo No…No… I’m serious, yes, I’m really serious. If you don’t believe me it doesn’t matter. Mother All right… All right. My husband, let’s see what he can do to help us. Buto Ijo [Gives the seeds] Look, here are some cucumber seeds. Plant these seeds, then you’ll get a daughter. Father Do you mean it? It’s so easy. Buto Ijo Yes, I mean it. But remember, on her seventeenth birthday, I’ll come back to take the girl. Mother Oh, husband… please I want a child! Let’s try his offer! Father But… Oh well, if you insist, I’ll take his offer. Mother [Bows down] Oh, thank you, husband! Thank you a lot, Buto Ijo! Buto Ijo Whoa…ha…ha…ha. See you again seventeen years from now, humans. And remember your promise. [Go away] Act 3 Narrator The next day, the couple planted the seeds. Months later, a golden cucumber grew in the yard. The cucumber was getting bigger and bigger each day. Mother Look! Look! The cucumber grew very big! It’s so fantastic! Father Yeah, you right. What a very big one. Mother It’s ripe already. Does it work? How can this big thing give us a daughter? Father I don’t know. Don’t ask me. Mother I think it’s time for us to open it up. I wonder what makes it’s so big. Don’t you think so? Father Yes. Let’s cut it into two. Narrator Carefully, they cut the cucumber into two. To their surprise, they found a beautiful baby girl inside the cucumber. How joyful they were. Mother [gasps] Oh my goodness! There is a baby girl inside this cucumber! Is it for real? Or am I dreaming? Father Yes it is. You want me to pinch you to prove it? Mother Err… No thanks. [Holds the baby out] This baby is so cute! God, thank you so much! Thank you so much! Father What will we name her? Mother I think I will name her Timun Mas, husband. Because she came from the cucumber and she is cute. That name really suits her, isn’t it? Father I agree with you. Act 4 Narrator Years passed by and Timun Mas grew into a lovely girl. Her parents were very proud of her but their hearts hurt so badly when they remembered their promise to Buto Ijo. The couple then remembered that there was a sacred hermit living inside the forest. So they went there for the help. Mother [Knocking the door] Excuse us. Hermit [Comes toward the door and opens it] May I ask who you both are? Mother My name is Sarni. This is my husband. We both are farmers living in the village near the forest. Hermit What do you want from me? Father We need your help. Hermit Okay, please come in. Tell me the whole story. Narrator The couple told the hermit about their wish and how Buto Ijo fulfilled it. And also the promise they made with the Giant. The hermit listened to them carefully as him nodded for the umpteenth time, until the couple finished their story. Hermit As expected, Buto Ijo did horrible thing as he wished. His greed explained everything. We need to do something. Mother Please, good Hermit, help us. Don’t let Buto Ijo take one dearest daughter. She’s been with us for seventeenth years. Father My wife is right, good hermit. What shall we do? Hermit Please be still and stop crying. Look, here is the bundle. There are four things and messages inside. They will help Timun Mas run away from the giant. Father [Takes the bundle] Are you sure they will work? Hermit Believe me, it will. Buto Ijo must be punished for his action. Mother Thank you very much, good hermit! Act 5 Narrator It so happened that one day on Timun Mas’s seventeenth birthday, Buto Ijo came for the couple’s promise. Buto Ijo Whoa…ha…ha… Hey, peasant, where is your lovely daughter? I come here to pick her up. Remember the promise you said to me! Father Please be patient, Buto Ijo. Timun Mas, my daughter, is playing in the field. Buto Ijo What a shit! I know you’re lying! But never mind, I’ll find her by myself! [Turns away to find Timun Mas] Father I’m glad he’s gone. Timun Mas, come here, child. TimunMas Yes, daddy, I’m coming. Who’s that? Mother He is Buto Ijo, the green giant. For some reason, he’s looking for you. I’m sure he’ll come back here soon. TimunMas Oh my God, what’ll he do to me? Father Listen to me, Timun Mas, all you have to do is run away from him. [Gives the bundle to Timun Mas] Take this bundle with you. It contains chili seeds, salt, cucumber seeds, and shrimp paste. TimunMas What should I do with these? Father Throw each of them when the giant gets closer to you. These will help you get away from the giant. TimunMas What about you, mom and dad? Mother Don’t worry about us. Oh my God, the giant is coming! Now, run, Timun Mas! Run as fast as you can! Please be careful! TimunMas Thank you, mom and dad! You too please take care of yourselves! [Runs away] Act 6 Narrator After that, the giant chased Timun Mas and he was getting closer and closer. Timun Mas then took a handful of salt from the bundle. She spread out the salt and magically a wide sea appeared between them. TimunMas Take that you evil giant! Buto Ijo [Smirks] Ho…ho…ho. You think you can run away from me! No way in hell! Whoa…ha…ha…ha. C’mon I’ll get you! [Swims through the sea] TimunMas Oh my God! How did he do that?? I don’t know he can swim! Buto Ijo Wait for me, you little girl! TimunMas Oh no! He’s getting closer to me. There’s no other choice! Take this, giant! Narrator And then she took the chili seeds and threw them at the giant. Suddenly the seeds grew into some trees and trapped him. The next thing he knew, the trees grew some thorns as sharp as a knife. Buto Ijo Ouch…Ouch! How the hell these trees grew into thorns?? It hurts badly! TimunMas Take that one too, evil creature! Buto Ijo So, you want to play with me huh? You’ll regret it when you lose! TimunMas Oh no! He is still chasing me! I must run faster! Narrator Once again, the giant almost caught Timun Mas. So, Timun Mas took the cucumber seeds and threw them onto the ground. Buto Ijo What now? What’s this? Cucumbers are everywhere! They look delicious! I guess it’s better for me to have appetizers first. TimunMas Hosh…Hosh…Oh I’m out of breath. But the giant was eating the cucumbers. This is my chance to run away! Buto Ijo [Yawns] Whoaaah…I’m very sleppy. I want to sleep first. After that I’ll find Timun Mas. Wait for me girl, I’ll come and make you my dinner tonight! Narrator Timun Mas kept on running as fast as she could. But soon she was very tired herself. And things were getting worse as the giant had woken up. Buto Ijo Whoaaah…I’m fresh again! Hey, Timun Mas, you can’t run away from me. I’ll get you! Hohoho… TimunMas Oh, God, he has woken up! What shall I do, God? Please help me! Buto Ijo So, you want to play hide and seek, don’t you? Where are you? C’mon, c’mon little girl… come to your papa! TimunMas God! Please help me!! Buto Ijo There you are, little girl! One more step and I’ll catch you! TimusMas This is my last hope! [Throws something] Take that, Buto Ijo! Narrator Desperately she then threw her last weapon, the shrimp paste. Magically, the paste turned into a big swamp. Buto Ijo Oh, no, what’s this? It’s so sticky and smells fishy! Timun Mas…! I swear I will swallow you as soon as I catch you! Narrator The giant fell into the swamp but his hands almost reached Timun Mas. Suddenly the swamp pulled him to the bottom and his hands lost her. TimunMas Finally I’m free! Buto Ijo Oh, no… help! Help me! Someone help me! TimunMas No one will help you, giant, because you’re a bad person. Buto Ijo Please help me…!! I swear I won’t do something bad again! Promise me! Hermit [comes out of the blue] Are you sure about your words? Buto Ijo Arggh… Hermit! Finally you come! Please help me! TimunMas [shocks] Who are you? Hermit [Turns his face to Timun Mas] Ah, am I scared you? Let me introduce myself. I am a hermit. So just call me hermit. You don’t need to know my real name. And this giant is my best friend. Buto Ijo Yes, I am his best friend! Please get me out of here! Hermit [Turns back to Buto Ijo] I will help you out if you promise you won’t do bad things again and stop being a greedy person. Buto Ijo Yes, I promise! I promise I will be a good person! You can count on me! Narrator Finally, the good hermit helped Buto Ijo, his best friend. As soon as the giant got out of the swamp, it was disappear. Then the giant apologized to Timun Mas as well as to the hermit. Fortunately they both forgave him. From then on, Buto Ijo lived as a good giant and always helped the peasants with their fields. As for Timun Mas, she lived happily with her parents with no fear anymore. -The EndProperties 1. Buto Ijo Imam Pakaian serba hijau baju dan celana, kalau ada topi atau kain berwarna hijau untuk menutup kepala, lalu bantal atau apapun yang bisa digunakan untuk menyumpal perut biar kelihatan gendut. 2. Timun Mas Dinny Selendang sebagai bawahannya, sedangkan atasannya boleh apa aja. 3. Hermit Dini Pakaian sopan. Namanya juga pertapa suci 4. Mother Fanfan Sama kayak Timun Mas. 5. Father Thomas Hmm, bukannya udah dikasih tahu ya father harus pakai baju apa. Yah, baju-baju jaman dulu yang agak lusuh maybe? sebenarnya saya nggak punya ide bajunya seperti apa, sama halnya dengan baju untuk karakter lain 6. Narrator Ican Pakaian biasa aja kayaknya. 7. Boneka bayi. Buat yang punya tolong dibawa. 8. Ada yang punya ide buat cucumber besar di act 3? 9. Lalu kantung kecil buat bundle tempat menyimpan ketiga senjata yang dipakai Timun Mas buat kabur dari Buto Ijo. Please seseorang bawa itu. lagi ya? Kayaknya nggak ada. Hapalkan naskah-nya ya! Supaya kita dapet nilai yang bagus. Maaf kalau naskahnya jadi agak panjang. I was doing my best when making it. Maaf buat katakata kasar yang ada di naskah ini. Karena nggak ada waktu buat latihan, maka hapalkan dialog karakter masing-masing supaya dramanya berjalan dengan lancar *amiin* Jangan lupa bawa properties-nya, okay? Timun mas Top of Form Narator Sekali waktu, di tempat yang jauh di dalam hutan, ada hijau Buto Ijo raksasa bernama dan seorang pertapa suci. Mereka adalah teman terbaik sejak balita. Suatu hari, pertapa datang ke gua untuk melihat sahabatnya. Pertapa Apakah siapa pun di dalam? [Berjalan di dalam gua] Buto Ijo aku di sini. Pertapa Ada Anda sahabatku, apa yang kamu lakukan? Buto Ijo Makan. Bukankah sudah jelas? Pertapa Oh … saya melihat. Apa yang Anda makan? Buto Ijo [Tidak ada jawaban, hanya terus makan] Pertapa Kau begitu menyebalkan! Dapatkah saya memiliki beberapa? Buto Ijo [Ternyata tubuhnya menjauh, tidak bersedia untuk berbagi makanan dengan sang pertapa] Pertapa [Marah] Seperti biasa, Anda tidak pernah berbagi saya makanan Anda meskipun saya selalu berbagi tambang untuk Anda! Anda raksasa pelit! Aku benci kamu! Buto Ijo Seperti jika saya peduli! [Lanjutkan makan] Pertapa Suatu hari keserakahan Anda akan mendapatkan pengembalian! Jangan menyesal! Aku pergi! [Mendapatkan keluar dari gua dengan kemarahan] Act 2 Narator Suatu hari, ada pasangan yang menyenangkan. Mereka tinggal di sebuah desa dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya, mereka tidak punya anak belum. Setiap hari mereka berdoa kepada Tuhan untuk seorang anak. Ibu Oh Tuhan … tolong beri kami anak. Aku berjanji akan selalu melindungi saya anak. Silahkan menjawab doa kita. Terima kasih Tuhan. Narator raksasa hijau, Buto Ijo, kebetulan melewati rumah pasangan itu. Dia mendengar apa yang mereka doakan. Buto Ijo Wah … ha … ha … ha! Aku dengar itu! Ibu [terengah] Ya Tuhan! W-Siapa kau? Buto Ijo Buto Ijo aku. Ayah [datang ke istrinya] Apa dengan kebisingan? Siapa itu, Sayang? Ibu Oh suami saya, Buto Ijo di depan rumah kami. Aku takut. Dia akan membunuh kami berdua! Buto Ijo Wah … ha … ha … ha … aku tidak akan membunuh Anda. Tapi aku akan memenuhi Anda permintaan untuk punya anak. Bapa Anda hanya bercanda, bukan? Buto Ijo Tidak … Tidak … Aku serius, ya, aku benar-benar serius. Jika Anda tidak percaya padaku tidak masalah. Ibu Baiklah … Baiklah. Suami saya, mari kita lihat apa yang dia bisa lakukan untuk membantu kami. Buto Ijo [Memberikan benih] Lihat, berikut adalah beberapa biji mentimun. Tanaman ini benih, maka Anda akan mendapatkan anak perempuan. Ayah Apakah yang Anda maksud itu? Ini sangat mudah. Buto Ijo Ya, aku serius. Tapi ingat, pada hari ulang ketujuh belas, aku akan datang kembali untuk mengambil gadis itu. Ibu Oh, suami … tolong saya ingin anak-anak! Mari kita coba tawarannya! Ayah Tapi … Oh well, jika Anda bersikeras, saya akan mengambil tawarannya. Ibu [Busur bawah] Oh, terima kasih, suami! Terima kasih banyak, Buto Ijo! Buto Ijo Wah … ha … ha … ha. Lihat lagi tujuh belas tahun dari sekarang, manusia. Dan ingat janji Anda. [Pergi] UU 3 Narator Keesokan harinya, pasangan yang ditanami benih. Bulan kemudian, sebuah emas mentimun tumbuh di halaman. Mentimun itu semakin besar dan lebih besar setiap hari. Ibu Lihat! Lihat! Mentimun tumbuh sangat besar! Ini sangat fantastis! Ayah Ya, Anda benar. Apa yang sangat besar. Ibu Itu sudah matang. Apakah itu bekerja? Bagaimana ini hal besar memberi kita anak? Ayah Saya tidak tahu. Jangan tanya saya. Ibu Saya pikir sudah waktunya bagi kita untuk membukanya. Aku ingin tahu apa yang membuatnya begitu besar. Jangan Anda pikir begitu? Ayah Ya. Mari kita potong menjadi dua. Narator hati-hati, mereka memotong mentimun menjadi dua. Untuk mengejutkan mereka, mereka menemukan seorang gadis cantik bayi dalam mentimun. Bagaimana menyenangkan mereka. Ibu [terengah] Ya ampun! Ada seorang bayi perempuan di dalam mentimun ini! Apakah untuk nyata? Atau aku bermimpi? Ayah Ya itu. Kau ingin aku untuk mencubit Anda untuk membuktikannya? Ibu Err … Tidak, terima kasih. [Gelar bayi keluar] Bayi ini sangat lucu! Tuhan, terima kasih Anda begitu banyak! Terima kasih banyak! Ayah Apa yang akan kita namanya? Ibu Saya pikir saya akan nama Timun Mas itu, suami. Karena dia berasal dari timun dan dia lucu. Nama yang benar-benar cocok dengannya, bukan? Ayah Saya setuju dengan Anda. UU 4 Narator Tahun-tahun berlalu dan Mas Timun oleh tumbuh menjadi gadis cantik. Orangtuanya sangat bangga, tapi hati mereka terluka parah ketika mereka ingat janji mereka untuk Buto Ijo. Pasangan itu kemudian teringat bahwa ada hidup pertapa suci di dalam hutan. Jadi mereka pergi sana untuk membantu. Ibu [Mengetuk pintu] Permisi. Pertapa [Datang ke arah pintu dan membukanya] Bolehkah saya bertanya siapa Anda keduanya? Ibu Nama saya Sarni. Ini suamiku. Kami berdua adalah petani yang tinggal di desa dekat hutan. Pertapa Apa yang Anda inginkan dari saya? Ayah Kami membutuhkan bantuan Anda. Pertapa Oke, silahkan masuk Ceritakan keseluruhan cerita. Narator Pasangan itu mengatakan kepada pertapa tentang keinginan mereka dan bagaimana Buto Ijo terpenuhi itu. Dan juga janji mereka dibuat dengan raksasa. Pertapa mendengarkan hati-hati seperti dia mengangguk untuk kesekian kalinya, sampai pasangan menyelesaikan kisah mereka. Pertapa Seperti yang diharapkan, Buto Ijo melakukan hal mengerikan seperti yang ia inginkan. Nya keserakahan menjelaskan segalanya. Kita perlu melakukan sesuatu. Ibu Tolong, baik Pertapa, membantu kita. Jangan biarkan Buto Ijo mengambil satu tersayang putri. Dia telah bersama kami selama bertahun-tahun ketujuh belas. Ayah Istri saya benar, pertapa yang baik. Apa yang harus kita lakukan? Pertapa Harap diam dan berhenti menangis. Lihat, di sini adalah bundel. Ada empat hal-hal dan pesan di dalamnya. Mereka akan membantu Timun Mas lari dari raksasa. Ayah [Membawa bundel] Apakah Anda yakin mereka akan bekerja? Pertapa Percayalah, itu akan. Buto Ijo harus dihukum karena tindakannya. Ibu Terima kasih banyak, baik pertapa! UU 5 Narator Ini begitu terjadi bahwa suatu hari di ulang tahun ketujuh belas Timun Mas, Buto Ijo datang untuk janji pasangan. Buto Ijo Wah … ha … ha … Hei, petani, di mana putri cantik Anda? Aku datang di sini untuk menjemputnya. Ingat janji yang Anda berkata kepada saya! Ayah Harap bersabar, Buto Ijo. Timun Mas, putri saya, adalah bermain di lapangan. Buto Ijo Apa peduli! Aku tahu kau berbohong! Tapi sudahlah, aku akan menemukannya dengan diriku sendiri! [Ternyata pergi untuk menemukan Timun Mas] Ayah Aku senang dia pergi. Timun Mas, datang ke sini, anak-anak. TimunMas Ya, ayah, aku datang. Siapa itu? Ibu Buto Ijo Dia, raksasa hijau. Untuk beberapa alasan, dia mencari Anda. Aku yakin dia akan kembali ke sini segera. TimunMas Ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan padaku? Ayah Dengarkan aku, Timun Mas, yang harus Anda lakukan adalah lari dari dia. [Memberikan bundel untuk Mas Timun] Ambil berkas ini dengan Anda. Ini berisi benih cabai, garam, biji mentimun, dan terasi. TimunMas Apa yang harus saya lakukan dengan ini? Ayah Lemparkanlah masing-masing dari mereka ketika raksasa semakin dekat dengan Anda. Ini akan membantu Anda menjauh dari raksasa. TimunMas Bagaimana dengan Anda, ayah dan ibu? Ibu Jangan khawatir tentang kita. Ya Tuhan, raksasa akan datang! Sekarang, jalankan, Timun Mas! Berlari secepat Anda dapat! Harap berhati-hati! TimunMas Terima kasih, ayah dan ibu! Anda juga harap berhati-hati dari dirimu! [Berjalan pergi] UU 6 Narator Setelah itu, raksasa Timun Mas dikejar dan dia semakin dekat dan lebih dekat. Timun Mas kemudian mengambil segenggam garam dari bungkusan itu. Dia menyebar garam dan laut yang luas ajaib muncul di antara mereka. TimunMas Ambil yang jahat raksasa! Buto Ijo [nyengir] Ho ho … ho …. Anda pikir Anda bisa lari dari aku! Tidak ada cara di neraka! Wah … ha … ha … ha. C’mon Aku akan membuat Anda! [Berenang melalui laut] TimunMas Ya Tuhan! Bagaimana dia melakukan itu?? Saya tidak tahu dia bisa berenang! Buto Ijo Tunggu aku, kau gadis kecil! TimunMas Oh tidak! Dia semakin dekat dengan saya. Tidak ada pilihan lain! Ambil ini, raksasa! Narator Dan kemudian ia mengambil biji cabai dan melemparkan mereka di raksasa. Tiba-tiba benih tumbuh menjadi beberapa pohon dan menjebaknya. Hal berikutnya ia tahu, pohon-pohon tumbuh beberapa duri setajam pisau. Buto Ijo Aduh … Aduh! Bagaimana sih pohon-pohon ini tumbuh menjadi duri?? Sakit parah! TimunMas Ambil yang satu juga, makhluk jahat! Buto Ijo Jadi, Anda ingin bermain dengan saya ya? Anda akan menyesal bila Anda kehilangan! TimunMas Oh tidak! Dia masih mengejar saya! Aku harus lari lebih cepat! Narator Sekali lagi, raksasa Timun Mas hampir tertangkap. Jadi, Mas Timun mengambil biji mentimun dan melemparkannya ke tanah. Buto Ijo Apa sekarang? Apa ini? Mentimun yang mana-mana! Mereka tampak lezat! Saya kira itu lebih baik bagi saya untuk memiliki makanan pembuka pertama. TimunMas Hosh … Hosh … Oh, aku kehabisan napas. Tapi raksasa itu makan mentimun. Ini adalah kesempatan saya untuk lari! Buto Ijo [Menguap] Whoaaah … Saya sangat sleppy. Aku ingin tidur dulu. Setelah itu saya akan Timun Mas menemukan. Tunggu aku gadis, aku akan datang dan membuat Anda makan malam saya malam ini! Narator Timun Mas terus berlari secepat dia bisa. Tapi segera dia sangat capek sendiri. Dan hal-hal yang semakin buruk sebagai raksasa yang sudah bangun. Buto Ijo Whoaaah … aku segar lagi! Hei, Mas Timun, Anda tidak dapat melarikan diri dari saya. Aku akan membuat Anda! Hohoho … TimunMas Oh, Tuhan, dia telah terbangun! Apa yang harus saya lakukan, Tuhan? Please help me! Buto Ijo Jadi, Anda ingin bermain petak umpet, bukan? Di mana kau? Ayo, ayolah … gadis kecil datang ke papamu! TimunMas Tuhan! Please help me!! Buto Ijo Ada Anda, gadis kecil! Satu langkah lagi dan aku akan menangkap Anda! TimusMas Ini adalah harapan terakhir saya! [Melempar sesuatu] Rasakan, Buto Ijo! Narator Dengan putus asa ia kemudian melemparkan senjata terakhirnya, pasta udang. Ajaib, paste berubah menjadi rawa besar. Buto Ijo Oh, tidak, apa ini? Ini sangat lengket dan bau amis! Timun Mas …! Saya Aku bersumpah akan menelan Anda begitu aku menangkap anda! Narator raksasa jatuh ke rawa tetapi tangannya hampir mencapai Timun Mas. Tiba-tiba rawa menariknya ke bawah dan tangannya kehilangan dia. TimunMas Akhirnya aku bebas! Buto Ijo Oh, tidak … membantu! Bantu saya! Seseorang membantu saya! TimunMas Tidak ada yang akan membantu Anda, raksasa, karena kau orang yang buruk. Buto Ijo Harap membantu saya …! Aku bersumpah aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk lagi! Janji saya! Pertapa [keluar dari biru] Apakah Anda yakin tentang kata-kata Anda? Buto Ijo Arggh … Hermit! Akhirnya anda datang! Please help me! TimunMas [guncangan] Siapa kau? Pertapa [Ternyata wajahnya Timun Mas] Ah, saya takut Anda? Mari saya perkenalkan diriku sendiri. Saya seorang pertapa. Jadi panggil aku pertapa. Anda tidak perlu tahu nama asli saya. Dan raksasa ini adalah teman terbaik saya. Buto Ijo Ya, saya sahabatnya! Tolong keluarkan aku dari sini! Pertapa [Ternyata Buto Ijo kembali ke] Saya akan membantu Anda jika Anda berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang buruk lagi dan berhenti menjadi orang yang serakah. Buto Ijo Ya, aku janji! Aku berjanji akan menjadi orang baik! Anda dapat mengandalkan saya! Narator Akhirnya, pertapa yang baik membantu Buto Ijo, sahabatnya. Begitu raksasa keluar dari rawa, itu menghilang. Kemudian raksasa itu meminta maaf Timun Mas untuk serta pertapa. Untungnya mereka berdua memaafkan dia. Sejak saat itu, Buto Ijo hidup sebagai raksasa yang baik dan selalu membantu para petani dengan bidang mereka. Sebagai Timun Mas, dia hidup bahagia dengan nya orang tua dengan tidak takut lagi.
Timun Mas Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang janda yang bernama Mbok Sirni, ia menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja. Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan keraksasa itu untuk disantap. Mbok Sirnipun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat setelah dua minggu diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas. Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama timun emas. Semakin hari timun emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok sirni amat takut kehilangan timun emas, dia mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa,semakin enak untuk disantap, raksasa pun setuju. Mbok Sirni pun semakin sayang pada timun emas, setiap kali ia teringat akan janinya hatinya pun menjadi cemas dan sedih. Suatu malam mbok sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam,dan terasi sebagai penangkal. Sesampainya dirumah diberikannya 4 bungkusan tadi kepada timun emas, dan disuruhnya timun emas berdoa. Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun emaspun disuruh keluar lewat pintu belakang untuk Mbok sirni. Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa. Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati. Yang terakhit Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati. ” Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini ” Timun Emas mengucap syukur. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai. Sumber Naskah Drama Timun Emas Babak 1 Narator “Alkisah, pada zaman dahulu kala hiduplah seorang janda bernama Mbok Sirni di sebuah desa kecil. Ia bekerja sebagai petani kecil. Ia menginginkan seorang anak agar dapat membantu dan menemani ia bekerja.” Mbok Sirni “Akhirnya, pekerjaanku di ladang hari ini sudah selesai. Seandainya saya memiliki seorang anak, pasti saya tidak selelah ini.” Narator “Suatu hari, ia didatangi oleh seorang raksasa.” Raksasa “Wahai petani kecil, jikalau engkau menginginkan seorang anak, akan kuberikan engkau seorang anak. Akan tetapi, dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan kepadaku itu untuk disantap.” Mbok Sirni “Baiklah tuan, saya setuju dengan persyaratan tuan.” Raksasa “Ini biji mentimun , rawatlah biji ini di ladangmu.” Narator “Setelah dua minggu, diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas.” Mbok Sirni “Wah, buah ini besar sekali!. Baiklah, akan ku belah buah itu dengan hati-hati.” Narator “Ternyata, isi buah tersebut adalah seorang bayi cantik.” Bayi “Oeek…….” Mbok Sirni “Wah, cantik sekali kamu, nak. Mulai sekarang, ibu akan memanggilmu Timun Emas karena kamu berasal dari timun yang bewarna emas.” Babak 2 Narator “Semakin hari, Timun emas tumbuh menjadi gadis jelita yang rajin membantu ibunya.” Timun Emas “Ibu, saya pergi mencari kayu bakar dulu ya.” Mbok Sirni “Iya, hati-hati ya nak. Jangan pulang terlalu malam, nanti kamu tersesat.” Narator “Beberapa saat kemudian, datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok Sirni.” Raksasa “Wahai petani kecil, saya datang kesini untuk menagih janjimu 6 tahun. Cepat serahkan anak itu ! Sekarang saya sangat ingin memakan seorang bocah.” Narator “Karena Mbok Sirni amat ketakutan, maka ia mengulur janjinya.” Mbok Sirni “Begini tuanku, saya punya saran. Maukah anda datang kesini dua tahun kemudian?. Saya yakin, bila semakin dewasa, anak ini pasti semakin enak untuk disantap.” Raksasa “Mmm…. , bagus juga saranmu. Baiklah, saya akan datang kesini dua tahun kemudian untuk menagih janjimu.” Babak 3 Narator “Hari berganti hari, Mbok Sirni semakin sayang pada timun emas, namun setiap kali ia teringat akan janjinya, hatinyapun menjadi cemas dan sedih.” Timun Emas “Bunda, ini sudah larut malam, kenapa bunda belum tidur? Dan, kenapa bunda tampak sedih, apakah bunda memiliki masalah?” Mbok Sirni “Tidak, anakku. Bunda tidak memiliki masalah. Mari kita tidur, bunda akan menceritakan sebuah dongeng untukmu.” Timun Emas “Hore, terima kasih bunda.” Babak 4 Narator “Suatu malam, Mbok Sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi ke sana.” Mbok Sirni “Timun Mas, bunda akan pergi ke Gunung Gundul untuk beberapa hari. Bila kamu lapar, ibu sudah menyiapkan nasi dan ikan asin goreng di dapur. Jangan kemana-mana ya, nanti kamu tersesat.” Timun Emas “Bunda, bolehkah saya ikut?” Mbok Sirni “Maaf, anakku. Kamu tidak dapat ikut bunda. Kamu harus menjaga rumah kita.” Timun Emas “Baiklah bunda.” Babak 5 Narator “Setelah Mbok Sirni sampai di Gunung Kidul, ia menolong seseorang yang hampir terjatuh dalam anak sungai. Ternyata orang tersebut adalah seorang petapa.” Petapa “Terima kasih engkau telah menolongku, ternyata engkau seorang yang murah hati. Ini kuberikan 4 buah bungkusan kecil ini, masing-masing didalamnya terdapat biji mentimun, jarum, garam,dan terasi untuk menyelamatkan anakmu dari raksasa.” Narator “Namun, ketika Mbok Sirni mau mengucapkan terima kasih, petapa tersebut menghilang begitu saja.” Babak 6 Narator “Mbok Sirni pun pulang ke rumahnya. Sesampai dirumah, ia menceritakan semua yang telah terjadi kepada Timun Emas.” Timun Emas “Bunda, saya amat takut dimakan oleh si Raksasa itu, dan juga saya takut berpisah dengan bunda.” Mbok Sirni “Oh, anakku. Bunda sangat menyayangimu dan takut kehilanganmu. Ini, bungkusan ini bunda berikan untukmu. Gunakan ini saat kamu berhadapan si Raksasa itu. Sebelum itu, berdoalah kepada Sang Pencipta untuk diberi perlindungan dari-Nya.” Timun Emas “Baiklah bunda, saya akan berusaha mengikuti saran bunda.” Babak 7 Narator “Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji.” Raksasa “Wahai petani kecil, aku datang kesini untuk menagih janjimu! Cepat serahkan anak itu, aku amat ingin memakannya! Hahaha……” Mbok Sirni “Anakku, cepat lari lewat pintu belakang rumah kita!” Timun Emas “Baiklah bunda.” Narator “Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa. Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati.” Timun Emas “Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini” Narator “Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai.” TAMAT
Uploaded byGraha Mandiri Permai 50% found this document useful 4 votes8K views5 pagesCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document50% found this document useful 4 votes8K views5 pagesDialog Timun MasUploaded byGraha Mandiri Permai Full descriptionJump to Page You are on page 1of 5Search inside document You're Reading a Free Preview Page 4 is not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Dongeng Timun Mas atau Timun Emas Jawa “Mentimun Emas” adalah cerita rakyat Jawa yang menceritakan seorang perempuan cantik yang baik hati, cerdas, dan pemberani. Itulah sebabnya, ia sangat disayangi oleh ibunya yaitu Mbok Srini. Suatu ketika, raksasa jahat ingin menyantap Timun keberaniannya, ia berhasil mengalahkan raksasa jahat tersebut. Kenapa raksasa tersebut ingin menyantap Timun Mas? Lalu, bagaimana cerita Timun Mas mengalahkan raksasa tersebut?Mama dapat membaca cerita selengkapnya yang telah rangkum di bawah ini untuk diceritakan kembali pada anak di rumah ya Ma!1. Hidup seorang janda bernama Mbok Srini yang kesepian dan mengharapkan kehadiran mula dongeng anak, Timun di sebuah desa di daerah Jawa Tengah, hidup seorang janda paruh baya yang bernama Mbok Srini. Sejak ditinggal oleh suaminya beberapa tahun, ia hidup sebatang kara, ia pun juga tak memiliki kesepian, ia sangat mengharapkan kehadiran seorang anak, namun sayangnya harapan itu pupus karena suaminya telah meninggal Srini hanya dapat menunggu keajaiban untuk bisa memiliki anak. Ia berharap keajaiban terjadi padanya, dengan selalu berdoa siang dan malam kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar dapat diberikan Dalam mimpinya, datang raksasa yang menyuruhnya mengambil bungkusan di bawah pohon pesar di suatu malam, harapan itu datang lewat mimpinya. Dalam mimpinya, Mbok Srini didatangi sesosok raksasa yang menyuruhnya pergi mengambil sebuah bungkusan di bawah pohon besar di hutan tempat biasanya ia mencari kayu bakar. Saat terbangun di pagi hari, Mbok Srini hampir tidak percaya dengan mimpinya semalam.“Mungkinkah keajaiban akan benar-benar terjadi padaku?” Ia pun bertanya dalam hati dengan Mbok Srini berusaha menghilangkan keraguan hatinya. Dengan penuh harapan, ia bergegas menuju ke hutan yang ditunjuk oleh raksasa itu. Setibanya di hutan, ia mencari bungkusan yang berada di bawah pohon Akhirnya dengan senjata terakhir, raksasa pun terkalahkan dan Timun Mas kembali menuju menemui Mbok penuh keyakinan, ia pun melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi. Seketika itu pula, tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba menjelma menjadi lautan lumpur yang mendidih. Alhasil raksasa itu terkalahkan karena tercebur ke dalam lautan lumpur dan tewas seketika. Maka selamatlah Timun Emas dari kejaran dan santapan raksasa sekuat tenaga, Timun Mas berjalan menuju ke gubuknya untuk menemui ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup itulah dongeng Timun Mas, kisah di atas dapat menjadi pelajaran bagi anak untuk selalu ingat bahwa orang yang punya niat jahat seperti raksasa, akhirnya akan mendapatkan celaka. Selain itu, mengingatkan anak segala rintangan dalam hidup dapat diselesaikan dengan baik jika dilakukan dengan usaha dan kerja jugaDongeng Nusantara Kisah Malin Kundang, Anak yang Durhaka10 Cara Mulai Menceritakan Dongeng pada Anak7 Tips Mendongeng Sebelum Tidur untuk Anak3. Mbok Srini yang terkejut karena isi bungkusannya hanya sebutir biji ia justru sangat terkejut saat menemukan bungkusan yang dikiranya berisi seorang bayi, tetapi isinya hanyalah sebutir biji timun. Hatinya pun kembali bertanya-tanya.“Apa maksud raksasa itu memberikanku sebutir biji timun?” ucap Mbok Srini dengan tengah kebingungannya, tanpa disadari ada sesosok raksasa berdiri di belakangnya sambil tertawa terbahak-bahak.“Ha… ha… ha…!” demikian suara tawa raksasa Srini pun terkejut sambil membalikkan badannya. Betapa terkejutnya ia karena raksasa itulah yang hadir dalam mimpinya. Ia pun menjadi Mbok Srini yang ketakutan bertemu raksasa dan membuat perjanjian Tuan Raksasa! Jangan memakanku! Aku masih ingin hidup,” Mbok Srini memohon dengan muka pucat.“Jangan takut, hai perempuan tua! Aku tidak akan memakanmu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak?” tanya raksasa itu.“Be… benar, Tuan Raksasa!” jawab Mbok Srini dengan gugup.“Kalau begitu, segera tanam biji timun itu! Nanti kamu akan mendapatkan seorang anak perempuan. Tapi, ingat! Kamu harus menyerahkan anak itu kepadaku saat ia sudah dewasa. Karena anak itu akan kujadikan santapanku,” ujar raksasa begitu besar keinginannya untuk memiliki anak, tanpa sadar Mbok Srini menjawab, “Baiklah, Raksasa! Aku bersedia menyerahkan anak itu kepadamu.”5. Ia pun menanam biji timun dan merawatnya dengan baik, saat membelah buah timun ia pun Mbok Srini selesai memberikan kesediaannya, raksasa itu pun menghilang. Kemudian ia segera menanam biji timun itu di ladangnya. Dengan penuh harapan, setiap hari ia merawat tanaman itu dengan baik. Dua bulan kemudian, tanaman itu pun mulai berbuah. Namun anehnya, tanaman timun itu hanya berbuah hari buah timun menjadi semakin besar melebihi buah timun pada umumnya. Warnanya pun sangat berbeda, karena berwarna kuning keemasan. Ketika buah timun sudah masak, Mbok Srini memetiknya timun yang berat dengan susah payah ke terkejutnya ia ketika membelah buah timun itu. Ia melihat seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Saat akan menggendongnya, bayi itu tiba-tiba menangis.“Ngoa… ngoa… ngoa… !!!” demikian suara bayi Timun Mas sangat disayangi Mbok Srini dan tumbuh menjadi perempuan cantik yang cerdas serta sifatnya yang bahagianya hati Mbok Srini mendengar suara tangisan bayi yang sudah lama dirindukannya itu. Ia pun memberi nama bayi itu Timun Mas.“Cup… cup… cup..!!! Jangan menangis anakku sayang… Timun Mas!” hibur Mbok paruh baya itu tak dapat menyembuyikan kebahagiaannya. Hingga air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Perasaan bahagia itu membuatnya lupa dengan janjinya bahwa dia akan memberikan bayi itu kepada raksasa suatu saat merawat dan mendidik Timun Mas dengan rasa kasih sayang hingga tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Mbok Srini sangat bangga, karena selain cantik, Timun Mas juga memiliki kecerdasan yang luar biasa dan sifatnya yang baik. Oleh karena itu, ia sangat sayang Picks7. Mbok Srini sedih karena kembali didatangi oleh raksasa dalam mimpi yang memberi pesan akan menjemput Timun malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi oleh raksasa yang memberi pesan kepadanya bahwa seminggu lagi ia akan datang menjemput Timun Mas. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang pun menjadi sedih, karena ia akan berpisah dengan anak yang sangat disayanginya. Ia baru menyadari bahwa raksasa itu ternyata adalah raksasa yang jahat, karena Timun Mas akan dijadikan santapannya!Melihat Mbok Srini sering duduk termenung, Timun Mas pun bertanya-tanya dalam hati. Suatu sore, Timun Emas memberanikan diri untuk menanyakan kegundahan hati yang dirasakan oleh ibunya.“Bu, mengapa akhir-akhir ini Ibu selalu tampak sedih?” tanya Timun Karena didesak, akhirnya Mbok Srini menceritakan asal usul Timun Mas yang dirahasiakan selama Mbok Srini tidak ingin menceritakan penyebab kegundahan hatinya, karena dia tidak ingin anaknya itu ikut bersedih. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia pun menceritakan asal-usul Timun Mas yang dirahasiakan selama ini.“Maafkan Ibu, Anakku! Selama ini Ibu merahasiakan sesuatu kepadamu,” kata Mbok Srini dengan wajah sedih.“Rahasia apa, Bu?” tanya Timun Mas penasaran.“Ketahuilah, Timun Mas! Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandung Ibu yang lahir dari rahim Ibu.” Jawab Mbok SriniBelum selesai ibunya bicara, Timun Mas tiba-tiba menyela.“Apa maksud, Ibu?” tanya Timun jugaDongeng Anak Nusantara Sangkuriang dan Asal Mula Tangkuban Perahu9. Timun Mas yang kaget dan tidak mau berpisah dengan Mbok Srini, akhirnya ia pun mencari Srini pun menceritakan semua rahasia tersebut hingga mimpinya semalam bahwa sesosok raksasa akan datang menjemput anaknya itu untuk dijadikan santapan. Mendengar cerita itu, Timun Mas menjadi kaget seolah-olah tidak percaya.“Aku tidak mau ikut bersama raksasa itu. Aku sangat sayang kepada Ibu yang telah mendidik dan membesarkan Timun,” kata Timun perkataan Timun Mas, Mbok Srini kembali termenung. Ia mencari cara agar anaknya selamat agar tidak menjadi santapan raksasa itu. Sampai pada hari yang telah dijanjikan oleh raksasa itu, Mbok Srini belum juga menemukan jalan keluar. Hatinya pun mulai cemas. Dalam kecemasannya, tiba-tiba ia menemukan sebuah Timun Mas berpura-pura sakit agar Mbok Srini bisa mengulur waktu untuk mencari cara anaknya dapat menyuruh Timun Mas agar berpura-pura sakit. Dengan begitu, raksasa tidak akan mau menyantapnya. Saat matahari mulai senja, raksasa itu pun mendatangi gubuk Mbok Srini.“Hai, Perempuan Tua! Mana anak itu? Aku akan membawanya sekarang,” pinta raksasa itu.“Maaf, Tuan Raksasa! Anak itu sedang sakit keras. Jika kamu menyantapnya sekarang, tentu dagingnya tidak enak. Bagaimana kalau tiga hari lagi kamu datang kemari? Saya akan menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu,” bujuk Mbok Srini yang mencoba mengulur waktu hingga ia menemukan cara agar Timur Mas bisa selamat.“Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu harus berjanji akan menyerahkan anak itu kepadaku,” kata raksasa Mbok Srini kembali menemukan cara untuk menyelamatkan Timun Mas dari raksasa dengan meminta Mbok Srini berjanji, raksasa itu pun menghilang. Mbok Srini kembali bingung untuk mencari cara lain. Akhirnya, ia menemukan cara yang untuk dapat menyelamatkan anaknya dari raksasa. Ia akan meminta bantuan kepada seorang pertapa yang tinggal di sebuah gunung.“Anakku! Besok pagi-pagi sekali Ibu akan pergi ke gunung untuk menemui seorang pertapa. Dia adalah teman almarhum suami Ibu. Barangkali dia dapat membantu kita untuk menghentikan niat jahat raksasa itu,” ungkap Mbok Srini.“Benar, Bu! Kita harus membinasakan raksasa itu. Karena aku tidak mau menjadi santapannya,” jawab Timun Pada keesokan harinya, Mbok Srini bertemu dengan pertapa di gunung untuk meminta harinya, pagi-pagi sekali, berangkatlah Mbok Srini ke gunung itu. Sesampainya di sana, ia langsung menemui pertapa itu dan menyampaikan maksud kedatangannya.“Maaf, Tuan Pertapa! Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan kepada Tuan,” kata Mbok Srini.“Apa yang bisa kubantu, Mbok Srini?” tanya pertapa Srini pun menceritakan masalah yang sedang dihadapi anaknya. Mendengar cerita Mbok Srini, pertapa itu pun bersedia membantu.“Baiklah, tunggu di sini sebentar!” ujar pertapa itu seraya berjalan masuk ke dalam ruang Sang Pertapa memberikan empat buah bungkusan kecil yang berisi senjata untuk melawan berapa lama, pertapa itu kembali sambil membawa empat buah bungkusan kecil, lalu menyerahkannya kepada Mbok Srini.“Berikanlah bungkusan ini kepada anakmu. Keempat bungkusan ini masing-masing berisi biji timun, jarum, garam dan terasi. Jika raksasa itu mengejarnya, suruh sebarkan isi bungkusan ini!” jelas pertapa mendapat penjelasan itu, Mbok Srini pulang membawa keempat bungkusan tersebut. Setiba di gubuknya, Mbok Srini menyerahkan keempat bungkusan itu dan menjelaskan tujuannya kepada Timun Mas. Kini, hati Mbok Srini mulai agak tenang, karena anaknya sudah mempunyai senjata untuk melawan raksasa Raksasa yang kembali datang untuk menagih janjinya, Mbok Srini kemudian menyuruh Timun Mas keluar hari kemudian, Raksasa itu pun datang untuk menagih janjinya kepada Mbok Srini. Ia sudah tidak sabar lagi ingin membawa dan menyantap daging Timun Mas.“Hai, perempuan tua! Kali ini kamu harus menepati janjimu. Jika tidak, kamu juga akan kujadikan santapanku!” ancam raksasa Srini tidak gentar lagi menghadapi ancaman itu. Dengan tenang, ia memanggil Timun Mas agar keluar dari dalam gubuk. Tak berapa lama, Timun Emas pun keluar lalu berdiri di samping ibunya.“Jangan takut, Anakku! Jika raksasa itu akan menangkapmu, segera lari dan ikuti petunjuk yang telah kusamapaikan kepadamu,” Mbok Srini membisik Timun Mas.“Baik, Bu!” jawab Timun Timun Mas berlari sekencang-kencangnya karena dikejar oleh raksasa, ia pun mengeluarkan senjata Timun Mas yang benar-benar sudah dewasa, rakasasa itu semakin tidak sabar ingin segera menyantapnya. Ketika ia hendak menangkapnya, Timun Mas segera berlari sekencang-kencangnya. Raksasa itu pun mengejarnya. Tak ayal lagi, terjadilah kejar-kejaran antara makhluk raksasa itu dengan Timun berlari jauh, Timun Mas mulai kecapaian, sementara raksasa itu semakin mendekat. Akhirnya, ia pun mengeluarkan bungkusan pemberian pertapa Timun Mas menebar biji timun yang diberikan oleh ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Timun Mas mengeluarkan dua senjata lainnya dan raksasa jahat masih mengejarnya dengan Emas pun segera melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum tersebut berubah menjadi rerumbunan pohon bambu yang tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu mampu melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, walaupun kakinya berdarah-darah karena tertusuk bambu usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu pula, hutan yang telah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil melaluinya dengan Emas pun mulai cemas, karena senjatanya hanya tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka tamatlah tadi cerita dongeng Timun Mas yang bisa diberikan kepada juga10 Cara Mulai Menceritakan Dongeng pada AnakDongeng Nusantara Kisah Malin Kundang, Anak yang DurhakaPanduan untuk Mama Materi Belajar PAUD Selama di Rumah
dialog cerita rakyat timun mas